Siwa Ratri

Hari Raya Siwa Ratri

HARI PELEBURAN “DOSA” KAH ?

Siwa Ratri, berasal dari kata Siwa dan Ratri. Siwa adalah Sang Hyang Siwa atau Dewa Siwa, sedangkan Ratri berarti malam. Jadi Siwa Ratri adalah dewa2malam Siwa. Disebut malam Siwa karena pada malam ini Dewa Siwa beryoga semalam suntuk. Siwa Ratri dilaksanakan setiap setahun sekali, tepatnya setiap Purwaning Tilem Sasih Kapitu.

Dalam Lontar Siwa Ratri Kalpa diceritakan :

Ada seorang pemburu yang bernama Lubdaka yang tinggal di sebuah desa terpencil. Setiap hari pekerjaan Lubdaka berburu binatang untuk menghidupi keluarganya, sehingga lubdaka setiap hari pula melakukan himsa karma (menyakiti dan membunuh makhluk) yang menimbulkan dosa, entah berapa dosa yang diperbuatnya. Pada suatu hari Lubdaka berburu ketengah hutan yang lebat, namun tak seekor binatangpun yang dijumpainya, walaupun denikian Lubdaka tidak putus asa, Lubdaka terus masuk ke tengah hutan. Sampai sore hari, ia belum juga mendapat binatang buruan. Karena hari mulai gelap, maka Lubdaka memutuskan untuk menginap dihutan. Agar tidak dimakan atau di ganggu binatang buas maka Lubdaka naik ke sebuah Pohon Bila yang kebetulan tumbuh di pinggir kolam yang dahannya menjulur di atas kolam tersebut. Untuk menghilangkan rasa ngantuk, Lubdaka memetik daun bila satu-persatu kemudian dijatuhkan ke kolam tersebut. Tanpa disadarinya muncullah sebuah lingga di tengah telaga tersebut. Lingga adalah tempat berstananya Dewa Siwa melaksanakan tapa, brata, yoga dan semedi.

Perbuatan Lubdaka diketahui oleh Dewa Siwa. Karena Lubdaka telah mengikuti Tapa, Brata, Yoga, dan Semedinya Dewa Siwa, maka Dewa Siwa menganugrahi pengampunan dosa, kelak jika Lubdaka meninggal dunia, rohnya akan diterima di alam Siwa (Siwa Loka).

Keesokan harinya Lubdaka turun dari pohon bila tersebut, kemudian pulang dengan tangan hampa tanpa binatang buruan. Setibanya di rumah semua hal yang alaminya di di hutan di ceritakan kepada istri dan anaknya. Hari berganti hari, tahun bergati tahun terlewati, akhirnya Lubdaka jatuh sakit dan meninggal dinia. Roh Lubdaka kemudian di sambut oleh Cikra Bala Dewa Yamadipati, untuk di siksa di neraka sesuai dengan perbuatanya karena setiap hari membunuh mkhluk tak berdosa. Tak lama kemudian datanglah prajurit Dewa Siwa untuk menjemput roh Lubdaka untuk di antar menghadap Dewa Siwa di Siwa Loka. Terjadilah perdebatan Cikra Bala Dewa Yamadipati dengan prajurit Dewa Siwa. Akhirnya setelah di jelaskan oleh Dewa Siwa karena baiknya Lubdaka pada waktu Siwa Ratri melaksanakan Tapa, Brata, Yoga, dan Semadi maka cikra Bala Dewa Yamadipati mengalah. Kemudian roh Lubdaka diantar ke Siwa Loka (surga) oleh prajurit Dewa Siwa. Demikianlah riwayat Lubdaka, walaupun pernah berbuat dosa, namun jika tekun melaksanakan Tapa, Brata, Yoga, dan Semadhi terutama pada malam Siwa Ratri maka dosa-dosa dapat dilebur oleh Dewa Siwa.

Terlepas dari cerita diatas, dalam kehidupan di masa sekarang ini mungkin manusia tidak lagi berburu binatang seperti Lubdaka, tetapi dalam keseharian kita secara sadar atau tidak kita selalu melakukan “Perburuan” untuk memuaskan Sadripu kita sebagai manusia, Mungkin banyak hal yang telah kita lakukan dalam kehidupan ini menyimpang dari ajaran agama dan norma yang ada, dan secara disengaja maupun tidak kita telah banyak melakukan “Dosa”.

Pertanyaannya sekarang apakah dengan begadang semalam suntuk untuk merayakan Hari Raya Siwa Ratri secara otomatis Dosa-dosa kita terhapuskan ?

Banyak pendapan mengenai hal tersebut, ada yang percaya dan yakin tapi ada juga masih meragukan hal tersebut. Tapi dari semua perdebatan mengenai hal tersebut mungkin dapat saudara garis bawahi, Bahwa Hari Siwa Ratri ada untuk menyadarkan manusia yang ada di Dunia ini untuk selalu mereview atau mengingat segala yang pernah diperbuatapakah itu baik atau bukan, dan selalu mengintropeksi diri, dan selalu sadar didalam melaksanakan berbagai hal.

Adapaun Tata Cara Perayaan Siwa Ratri Sebagai berikut :

Sejak Pagi hari pada panglong ping 14 Sasih Kapitu, tahun ini jatuh pada hari Sabtu tanggal 24 Januari 2009 diawali dari jam 06.00 pagi dengan asuci laksana, mandi dan berpakaian rapi sesuai sesana. Berbarengan dengan kegiatan ini mulailah menggelar Brata Siwaratri yaitu monobrata (tidak berbicara), upawasa (tidak makan dan minum) dan Jagra (tidak tidur/begadang). Monobrata dan Upawasa dilaksanakan selama 24 jam penuh, sedangkan Jagra dilaksanakan selama 36 jam penuh.

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    maria said,

    you have to write ur mail as many as you can

  2. 2

    Anonim said,

    Memaknai perayaan Ciwa Ratri sebagai malam untuk perenungan jati diri… untuk mengevaluasi keberadaan diri.. sebelum — saat ini dan — yang akan datang…. bahwa kehidupan bersifat sementara.. marilah setiap saat selalu memperbaiki setiap langkah kehidupan menuju lebih baik.. mengutamakan sesuatu yang kekal.. OSS


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: