JANGAN ANGGAP DIRIMU SUDAH PINTAR

Adalah fenomena umum untuk ‘unjuk jari kedepan’. Ia mungkin telah menjadi kebiasaan kita sejak dahulu. Fenomena umum, seringkali kemudian menjadi kesalah-kaprahan. Kecenderungan untuk unjuk jari ke depan, bisa jadi menjadi salah kaprah di benak kita, sehingga ia tampak wajar-wajar saja. Pepatah: “Ala bisa karena biasa”, berlaku disini.

Salah-satu implikasi langsungnya adalah fenomena ikutan seperti pepatah: “Gajah di seberang lautan tampak jelas, debu di pelupuk mata tak terlihat”. Pepatah-pepatah tinggalan para pendahulu bangsa ini seringkali mengandung nilai-nilai kebijaksanaan, namun saking lumrahnya, ia malah terkesan kuno dan klise, sehingga luput dari perhatian kita. Sebuah pepatah umum, tentu telah mengalami proses panjangnya sendiri. Kalaupun ia masih bertahan hingga detik ini, ia telah mengalami penyempurnaan dan mengalami ujian serta pembuktian-pembuktian.

Tak seperti kata-kata bijak, yang terkadang butuh perenungan hingga batas kedalaman tertentu; pepatah — yang biasanya anonim— amat implementatif dalam kehidupan kita. Dengan cara dan gayanya sendiri, produk dalam negri ini telah memberi manfaat bagi banyak manusia Indonesia. Sebutlah ia budaya, budaya yang kita warisi ternyata tak kalah dengan budaya impor yang sedang membombardir bangsa ini.

Satu hal yang menarik dari pepatah-pepatah kuna adalah kemampuannya sebagai pengingat, yang juga tak jarang “menelanjangi” kita. Sebagai pengingat, ia mungkin tak banyak menggerakan emosi kita. Tetapi bila kita merasa ditelanjangi, tentu membuat kita malu sendiri bukan?

Ada yang mengatakan bahwa: “Tiada pencerahan apapun yang tanpa diawali oleh kesadaran”. Sadar bahwa kita tertelanjangi sendiri, mengakui bahwa itulah fakta dari keberadaan kita untuk kemudian berupaya untuk mengenyahkan kebiasaan buruk itu, mengantarkan kita pada pencerahan batin.
Contoh yang paling banyak dikenal orang tentang pola penyadaran dan pencerahan serupa ini adalah kisah hidup Sang Pangeran Siddhartha Gotama. Pencerahan Agung nan Sempurna beliau awali hanya dengan menyadari bahwa manusia bisa sakit, tua untuk kemudian mati pada satu sisi, dan seorang pertapa yang tampak tenang-tenang dan berbahagia dalam kesederhanaannya, dalam kesendirian dan kemandiriannya.

Bagi kita, apa yang disaksikan oleh Sang Pangeran akan terlewatkan begitu saja; ia hanya kita pandang sebagai kelumrahan dan tak memberi makna apapun dalam batin kita. Salah-satu pepatah kuno Bali, yang bila kita cermati dan renungkan baik-baik bisa bernakna spiritual tinggi adalah:

“Ede ngaden awak bise,
depang anake ngadanin.
Geginane buka nyampat,
anak sai tumbuh luhu.
Ilang luhu, buke katah.
Yadin ririh, liu enu pepelajahan.”

Artinya dalam bahasa Indonesia kurang-lebih sebagai berikut:

“Jangan menyangka dirimu sudah pintar, biarlah oranglah yang menyebutnya demikian. Ibarat menyapu, sampah akan ada terus menerus. Kalupun sampah habis, masih banyak debu. Walaupun kamu telah pintar, masih banyak hal yang perlu kamu pelajari.”

Di Bali, pepatah kuno itu dilantunkan dalam ‘pupuh ginada’ ataupun ‘basur’ (tembang baku dalam seni sastra dan suara Jawa-Bali kuno). Mungkin karena digubah dalam tembang, ia digandrungi dan suka dilantunkan dalam berbagai kesempatan. Itulah yang menjadikannya tetap lestari; seni telah membantu untuk melestarikannya.

Kesadaran hanya bangkit bilamana kita punya cukup keberanian untuk membangkitkan ‘pengakuan’ atas segala keburukan diri, keterbatasan dan kelemahan diri. Pengakuan seperti ini ternyata bermanfaat nyata. Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf atas kesalahan kita, adalah sikap batin pemberani yang positif serta kondusif bagi bangkitnya kesadaran-diri. Ia justru dibangkitkan oleh keberanian untuk ‘unjuk jari pada diri sendiri’, atau ‘mawas-diri’.

Mawas-diri; lagi-lagi kita disuguhi ungkapan yang teramat lumrah dan klise. Saking lumrahnya, iapun lagi-lagi luput dari pencermatan kita, sehingga tak memberikan manfaat apapun. Kenapa?
Salah-satunya karena kita mempunyai kecenderungan ‘menyepelekan’ produk dalam negri. Kita lebih merasa nyaman, merasa trendy bila berdandan gaya luar. Satu lagi kecendrungan lain yang tak kalah penting disini adalah, ‘arogansi intelektual’ kita. Ya…menyepelekan dan arogan, itulah yang menghalangi kita untuk dapat memetik manfaat dari nasehat-nasehat dan tuntunan hidup yang bermanfaat itu.

Sebuah pengakuan adalah sebentuk ekspresi dari kejujuran; keterkaitan antara keduanya tak dapat kita lepaskan. Bukanlah suatu pengakuan, bila tanpa dilandasi kejujuran. Dan untuk berterus-terang, bersikap jujur, butuh keberanian tertentu. Berani malu, berani menerima semua konsekwensinya.
Nah…keberanian serupa inilah yang besar kontribusi bagi pengembangan batin dan menjalani kehidupan ini.
Memang, ia bisa jadi seperti perang di dalam. Namun ketika kita berhasil keluar sebagai pemenangnya, maka kita akan disambut oleh para widyadara dan widyadari (personifikasi dari keindahan pengetahuan luhur, dalam bahasa Indonesia ia seringkali hanya disebut dengan bidadari saja).

Nah…kini siapkan kita untuk mendeklarasikan ‘pengakuan diri’?; Selamat sahabatku!

Pipis

jalani hidup ini dengan keceriaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: